ISTIGHFAR
Disebutkan dalam sebuah hadist, bahwa pada suatu hari Nabi saw. Sedang
duduk-duduk bersama para sahabatnya. Kemudian tiba-tiba datanglah
seorang laki-laki seraya menanyakan dan mengeluhkan masalah kemiskinan
yang menimpa dirinya kepada beliau. Maka Nabi saw. bersabda : ”Engkau harus beristighfar”.
Selang beberapa waktu, datang
lagi seorang laki-laki lain, lalu menanyakan dan mengeluhkan masalah
sedikitnya anak. Maka beliaupun bersabda : ”Engkau harus beristighfar”. Kemudian setelah itu, Abu Hurairah ra. Berkata, ’wahai Rasulullah saw. Penyakitnya bermacam-macam tetapi obatnya hanya satu’. Maka beliau bersabda, bacalah firman Allah ta’ala :
”Maka aku katakan kepada
mereka : Mohonlah ampun kepada Tuhanmu (istighfar), sesungguhnya Dia
Maha Pengampun. Dia akan mengirim kepada kamu hujan yang lebat, dan
memperbanyak harta dan anak-anak dan menjadikan untukmu kebun-kebun
serta menjadikan pula didalamnya untukmu sungai-sungai” (QS. Nuh / 71 :
10-12)
Berhubungan dengan hal ini, Rasulullah saw. juga bersabda :
”Barangsiapa yang
membiasakan istighfar (meminta ampun), niscaya Allah akan menjadikan
(memberikan) jalan keluar baginya dari segala kesempitan dan memberikan
kesenangan dalam segala kesusahan, serta memberinya rizqi dari arah yang
tidak dia duga” (HR. Abu Dawud & Ibnu Majah dari Ibnu Abbas ra.)
TAWAKAL
Tawakal kita lakukan ketika kita sudah ikhtiar/berusaha secara maksimal sesuai dengan ketentuan (sunatullah) yang
berlaku di dalam kehidupan. Artinya, ketika kita hendak mengatasi
setiap urusan dan persoalan, maka kita harus menyempurnakan semampu
mungkin syarat-syarat yang dibutuhkan.
Yaitu, apakah kita sudah
maksimal, sungguh-sungguh dan istiqomah, apakah kita sudah benar dan
sudah sesuai dengan jalur agama yang sudah digariskan dan apakah kita
sudah mendekat/menghampiri Sang Pencipta dengan menyerahkan segala
urusan kita, lalu bermunajat dan berdo’a kepada-Nya ? Jika kita sudah
memenuhi syarat-syarat ini, insya Allah Allah swt. Akan menolong kita, apapun persoalan kita dan akan memberikan jalan keluar yang terbaik.
”.....Dan barangsiapa yang
bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.
Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya.
Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”.
(Qs. Ath-Thalaq / 65 : 3)
”Jika kalian bertawakal
kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, pasti Allah akan
memberi kalian rizqi sebagaimana Dia memberi rizqi kepada burung. Mereka berangkat di pagi hari dengan perut kosong dan kembali di waktu petang dengan perut yang penuh isi”. (HR. Ahmad)
BER-SYUKUR
Bersyukur berarti memuji Allah
swt. Sebagai rasa terima kasih atas rahmat, nikmat dan karunia yang
telah diberikan kepada kita. Caranya adalah dengan menggunakan apa yang
telah diberikan Allah kepada kita, sesuai dengan apa yang
dikehendakinya.
Artinya, kita diberi kedua
kaki, maka harus digunakan untuk berjalan menuju kebaikan atau berjalan
senantiasa dalam ridho Allah swt. Kita diberi kedua tangan, maka kita
gunakan untuk bekerja dengan baik dan benar, untuk menolong orang lain
yang membutuhkan dan kebaikan lainnya.
Ketika kita diberi ilmu, maka
kita harus mengajarkannya kepada orang lain. Apalagi ketika kita diberi
rizqi, maka kita harus sedekahkan kepada orang-orang yang membutuhkan.
Itulah bentuk-bentuk perwujudan
syukur kita kepada Allah swt. Ringkasnya, semua anggota panca indera
(organ tubuh) kita harus senantiasa digunakan untuk melakukan perbuatan
baik (amal shalih).
”Sesungguhnya jika kamu
bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat (rizqi) kepadamu, dan jika
kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih”
(QS. Ibrahim / 14 : 7)
”Sesuatu jadi sulit,
kalau kita menganggapnya sulit. Sesuatu akan mudah, kalau kita percaya
itu mudah. Ini adalah persoalan kepercayaan diri dan keyakinan penuh
dalam berdo’a. Kitalah yang lebih sering menciptakan kesulitan di dalam
fikiran dan bayang-bayang kita, termasuk dalam hal mencari rizqi”
MENEGAKKAN SHALAT & SABAR
Hal mendasar yang
menjadi bagian dari ”kunci-kunci rizqi” adalah ”shalat dan sabar”. Baik
dengan menegakkan shalat fardhu lima waktu maupun shalat-shalat yang
disunahkan lainnya, seprti shalat tahajud, shalat dhuha, shalat hajat,
shalat istikharah, dll.
Sedangkan
yang dimaksud dengan sabar adalah kesabaran menerima apa adanya dari
hasil ikhtiar maksimal kita yang terus menerus dilakukan tanpa mengenal
menyerah / putus asa. Jika suatu saat ikhtiar kita gagal, maka
bersabarlah dan bersyukurlah dalam menghadapi kenyataan ini. Setelah
itu, belajar kembali dari kenyataan itu tanpa menghentikan ikhtiar, yang
tentunya juga memerlukan introspeksi, reorientasi dan langkah-langkah
baru.
”Minta
tolonglah kalian (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya
hal yang demikian itu adalah berat kecuali bagi orang yang khusyu’” (QS.
Al Baqarah / 2 : 45)
”Hai
orang-orang yang beriman, minta tolonglah kalian (kepada Allah) dengan
sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabara”
(QS. Al Baqarah / 2 : 153)
SHALAT SUNNAH DHUHA
Shalat
sunnah dhuha merupakan shalat sunnah muakad (sangat dianjurkan).
Dikerjakan pada pagi hari, ketika matahari sedang naik, yaitu sekitar
jam 07.00 sampai dengan 11.00 siang.
”Kekasihku
saw. Mewasiatkan kepadaku tiga hal, yaitu : berpuasa tiga hari setiap
bulan, mengerjakan dua raka’at shalat dhuha dan shalat witir sebelum
tidur” (HR. Bukhari dan Abu Hurairah)
SHADAQAH / INFAQ
Sebagai
seorang muslim, kita dituntut untuk selalu peduli kepada orang lain.
Perintah shadaqah merupakan berkah dan rahmat bagi manusia. Karena bagi
manusia, shadaqah merupakan sarana yang sangat hebat untuk menaklukkan
sifat egoisme dan sifat kikir yang bersarang dalam dirinya.
Bukan
hanya itu, ternyata shadaqah merupakan salah satu sebab diturunkannya
rizqi dari Allah SWT. Begitulah kiranya hukum yang berlaku dibalik
shadaqah. Jadi, jika ingin selamat dan kaya, maka otomatis kita harus
yakin dan tidak boleh ragu terhadap ”Ketentuan dan Logika Langit” ini.
Dan
pada saat yang sama, kita langsung mempraktekkannya. Yaitu, kita
senantiasa ber-shadaqah kapanpun dan dimanapun sesuai dengan
kemampuannya.
”Hendaklah kalian mempercepat datangnya rizqi dengan shadaqah” (HR. Abu Dawud)
”Perumpamaan
(nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di
jalan Allah) adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh
bulir, pada tiap-tiap bulir ada seratus biji. Allah melipatgandakan
(ganjaran) bagia siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas
(karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS. Al Baqarah / 2 : 261)
TAQWA
Bertaqwa
bisa diartikan sebagi kepekaan bathin yang sangat tinggi dari seseorang
terhadap sesuatu yang baik maupun yang buruk, sehingga dia mampu
memilih tindakan terbaik untuk dirinya. Dia bisa membedakan dan
merasakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang isi dan yang
kosong, mana yang menguntungkan dan yang merugikan.
Dia
juga tahu akibat-akibat yang timbul dari pilihan-pilihan yang
diambilnya, sehingga dia sangat waspada dalam bersikap dan merespon
segala apa yang dihadapinya. Dengan sikap seperti ini, dia akan
terhindar dari perbuatan maksiat, buruk dan merusak yang bisa
menyebabkan dirinya celaka dan binasa.
Dengan
begitu, orang yang bertaqwa itu sangat cerdas dalam menentukan
pilihan-pilihan yang dihadapinya, sehingga dia akan selamat. Karena
hanya orang bodohlah yang memilih kerugian, kecelakaan dan kebinasaan.
Kalau
begitu, bisa dibayangkan bahwa orang yang bertaqwa pasti selalu
mendapat rahmat, perlindungan dan pertolongan Allah SWT. Karena dia
senantiasa melakukan amal shalih atau perbuatan terbaik demi
kemaslahatan dirinya maupun makhluk-Nya yang lain.
”......Barangsiapa
yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan memberinya jalan keluar.
Dan akan memberinya rizqi dari arah yang tidak dia sangka-sangka
sebelumnya.....” (QS. Ath Thalaq / 65 : 2-3)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar